Sabtu, 06 Juli 2013

BEBERAPA CATATAN TENTANG PERKEMAHAN PRAMUKA SANTRI NUSANTARA TAHUN 2006


 

AZRUL AZWAR

(Disampaikan pada Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara Tahun 2006, Jakarta 8 Desember 2006)

 

 

1.    Pada tanggal 10 sd 14 September 2006 lalu dengan mengambil tempat di Buperta Cibubur telah diselenggarakan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara tahun 2006 yang diikuti oleh pramuka penegak utusan dari pondok-pondok pesantren  dibawah satu kontingan Daerah yang dikoordinir oleh Kanwil Departemen Agama dan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka  dari masing-masing propinsi.

 

2.    Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menyambut gembira Perkemahan Pramuka Santri Nusantara tahun 2006 tersebut, karena perkemahan  ini sejalan dengan salah satu misi Pengurus Kwartir Nasional Gerakan Pramuka  priode 2003-2008 yakni ”Mempramukakan Kaum Muda”.

 

3.    Bagi Kwartir Nasional gerakan Pramuka terselenggaranya misi yang pertama ini yakni ”Mempramukakan Kaum Muda” dipandang penting, karena sesungguhnyalah masalah dan tantangan yang dihadapi oleh kaum muda Indonesia pada akhir-akhir ini tampak makin komplek dan serius, yang diyakini akan dapat diatasi antara lain apabila kaum muda dapat berperan aktif dalam kegiatan keperamukaan.

 

4.    Adapun masalah dan tantangan yang dihadapi oleh kaum muda  di Indonesia secara umum dapat dibedakan atas dua kelompok: 

 

  1. Kelompok menengah keatas (the have)

Masalah dan tantangan yang dihadapi oleh kaum muda kelompok menengah keatas beranekaragam. Jika dikaitkan dengan kepentingan bangsa dan negara,  yang terpenting diantaranya adalah semakin berkurangnya  semangat solidaritas dan nasionalisme. Sebagai akibat  keadaan sosial ekonomi yang berlebihan,  menyebabkan  keprihatinan terhadap kelompok miskin menurun tajam. Sedangkan, sebagai akibat banyak diantara mereka yang berkesempatan hidup serta  belajar di luar negeri, berpengaruh terhapat menipisnya   semangat kebangsaan.

 

  1. Kelompok mengenah kebawah  (the have not)

Sama halnya dengan kelompok pertama, masalah dan   tantangan yang dihadapi oleh kaum muda  kelompok menengah kebawah juga beranekaragam.  Jika dikaitkan dengan kepentingan bangsa dan negara, yang terpenting diantaranya adalah tidak jelasnya masa depan mereka.. Banyak kaum muda yang berasal dari kelompok ini tidak dapat melanjutkan pendidikan, dan kerananya tidak memiliki  pekerjaan. Akibatnya berpengaruh terhadap prilaku hidup sehari-hari,   seperti misalnya   terlibat kasus kriminal, sebagai  pengguna NAPZA,  melakukan hubungan seksual tidak sehat, melakukan aborsi,  serta  terlibat dalam  terlibat tindakan kekerasan, perkelahian dan tawuran

 

5.    Pelbagai masalah dan tantangan ini, akan dapat diatasi  apabila kepada kaum muda tersebut dapat secara aktif dilibatkan dalam kegiatan  pendidikan kepramukaan.  Pelbagai penelitian telah berhasil membuktikan apabila kegiatan pendidikan kepramukaan tersebut dapat diperkenalkan, bukan saja akan berdampak  positif dalam membantu mengatasi masalah dan tantangan kaum muda, tetapi yang terpenting lagi akan  berkontribusi positif pada pembentukan watak dan karakter bangsa.

 

6.    Sesungguhnyalah Gerakan Pramuka yang diresmikan pada tanggal 14 Agustus 1961 lalu, yang merupakan kesinambungan dari Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia, pada hakekatnya adalah suatu  gerakan pendidikan yang bersifat non formal dan berperan sebagai komplemen dan suplemen terhadap pendidikan formal dalam melahirkan generasi yang bertanggung jawab pada masa depan

 

7.    Perbedaan pendidikan kepramukaan dengan pendidikan lain  terletak pada lima hal pokok yakni tujuan pendidikan, materi pendidikan,  metoda pendidikan, pengelompokan peserta didik serta tempat pendidikan kepramukan:

 

  1. Tujuan pendidikan keperamukaan adalah mendidik dan membina kaum muda Indonesia guna mengembangkan mental, moral, spiritual, emosional, sosial, intelektual dan fisik,  sehingga menjadi manusia bekepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, kuat mental dan tinggi moral, tinggi kecerdasan dan mutu ketrampilannya, kuat dan sehat jasmaninya
  2. Materi  pendidikan kepramukaan terkait dengan kehendak membentuk watak dan kepribadian kaum muda,    disebut sistem nilai kepramukaan  yakni trisatya dan dasa darma pramuka
  3. Metoda pendidikan kepramukaan adalah  metoda belajar mengajar yang interaktif dan progresif, bentuk belajar sambil bermain dan/atau melakukan secara berkelompok,  yang  diselenggarakan  di alam terbuka  dengan menampilkan  pelbagai kegiatan yang menantang, menarik dan menyenangkan sesuai dengan perkembangan peserta  didik,  serta menerapkan tanda kecakapan
  4. Pengelompokan peserta didik pramuka dilakukan atas dasar pembagian golongan umur, yang secara umum dibedakan atas 4 golongan  yakni  (1) pramuka Siaga, berusia 7 sampai 10 tahun, (2) pramuka Penggalang, berusia 11 sampai 15 tahun, (3) pramuka Penegak, berusia 16 sampai 20 tahun serta (4) pramuka Pandega, berusia 21 sampai 25 tahun.
  5. Tempat pelaksanaan pendidikan kepramukaan adalah  di Gugusdepan serta di pangkalan Saka. Khusus untuk pendidikan di Saka dilakukan   dalam rangka menyalurkan minat, mengembangkan bakat, serta meningkatkan keterampilan peserta didik dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi seperti misalnya kesehatan, pertanian, kedirgantaraan, kebayangkaraan, kebaharian, serta keluarga berencana dan kependudukan 

 

8.    Dalam rangka memberikan dorongan untuk latihan bersama, mempererat hubungan dan kesatuan serta persatuan bangsa, tukar menukar pengalaman, pengetahuan dan kecakapan,  serta penilaian kegiatan dan kecakapan para peserta didik, dilakukan pertemuan pramuka.  Adapun yang dimaksud dengan pertemuan pramuka adalah pertemuan antar sejumlah pramuka dari beberapa satuan pamuka  yang segolongan dan berisikan acara kegiatan dan latihan bersama. Pertemuan pramuka dihadiri oleh anak didik terpilih sesuai dengan keadaan, kepentingan perkembangan dan kemampuan anak didik serta masyarakat setempat.

 

9.    Pertemuan pramuka dilaksanakan secara terpisah menurut  pembagian golongan umur peserta didik. Untuk tiap golongan umur peserta didik dikenal beberapa macam pertemuan sebagai berikut:

 

 

NO
PERTEMUAN PRAMUKA
NAMA PERTEMUAN DAN KEGIATAN
1
Pertemuan Siaga
Disebut pesta siaga. Kegiatan yang dilakukan antara lain rekreasi, permainan bersama, pameran, bazar, darmawisata, pentas seni rupa, perkemahan siang hari, karnaval
2
Pertemuan Penggalang
Disebut pesta penggalang. Kegiatan yang dilakukan antara lain latihan bersama, perkemahan, demonstrasi, pameran, darmawisata, widyawisata, karyawisata, pesta seni budaya, api unggun, pesta bahari, pesta dirgantara, penjelajahan, kegiatan keagamaan, lomba tingkat,  perkemahan bakti. Pesta penggalang yang  melaksanakan pelbagai  kegiatan disebut jambore
3
Pertemuan Penegak dan  pendega
Disebut  raimuna, Kegiatan yang dilakukan antara lain latihan bersama, perkemahan, demonstrasi, pameran, perlombaan, ceramah, diskusi, latihan kepemimpinan, lomba olahraga, pesta seni budaya, darmawisata, widyawisata, karyawisata, bakti kepada masyarakat, kegiatan keagamaan, anjang sana. Jika kegiatan  lebih diarahkan  pada pengabdian masyarakat disebut perkemahan wirakarya (PW). Jika PW diselenggarakan oleh Satuan Karya disebut perkemahan bakti satuan karya (Pertisaka)

 

10. Dari uraian tentang Gerakan Pramuka, pendidikan kepramukaan serta pertemuan pramuka sebagaimana dikemukakan diatas jelaslah bahwa  Perkemahan Pramuka Santri Nusantara tahun 2006 adalah salah satu bentuk dari pertemuan pramuka. Selanjutnya jika diperhatikan kegiatan yang dilaksanakan yakni (a) kegiatan mental, spiritual dan silaturahmi (b) kegiatan keterampilan kepramukaan  (c) kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi (d) kegiatan seni budaya  dan  (e) kegiatan sosial, serta jika diperhatikan pula pengelompokan peserta didik yang ikut serta yakni  perpaduan antara (a) pramuka penggalang, (b) pramuka penegak serta (c) pramuka pendega, maka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara   tahun 2006 tersebut merupakan  gabungan  antara Jambore dengan Raimuna.

 

11.  Adanya inovasi yang seperti ini dapat saja dibenarkan, asal saja kegiatan yang dilaksanakan untuk setiap kelompok umur dapat dibedakan. Dengan perkataan lain tingkat kesulitan dan/atau kompleksitas kegiatan untuk kelompok penggalang tentu tidak boleh sama dengan kelompok penegak dan pendega. Dengan catatan, untuk terselenggaranya dua kegiatan terpisah yang seperti ini, diperlukan tersedianya tenaga pendamping dan pembina pendamping yang cukup, disamping sarana dan prasarana yang lengkap.

 

12. Yang mungkin dapat dipermasalahkan agaknya adalah asal peserta pertemuan,  yang terbatas hanya dari satu kelompok masyarakat tertentu saja, yang dalam hal ini adalah para santri. Adanya pembatasan yang seperti ini dapat diartikan sebagai berlakunya   diskriminasi, fragmentasi dan eklusifisme, yang  ketiganya bertentangan dengan prinsip dasar kepramukaan. Untuk mengatasinya, barangkali ada baiknya disarankan, meskipun peserta utamanya tetap  para santri, tetapi memberi kesempatan serta membuka pintu bagi keikutsertaan peserta dari kelompok-kelompok lain yang ada di masyarakat.

 

13. Lebih lanjut, khusus jika diperhatikan perkemahan pramuka yang dilaksanakan oleh peserta didik dari institusi pendidikan agama Islam, maka disamping Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, juga dikenal Perkemahan Bakti Universitas Negeri Islam/Institut Agama Islam Negeri yang pesertanya adalah para pramuka pendega.  Untuk efisiensi kedua perkemahan ini perlu dipikirkan untuk diintegrasikan, atau kalau dianggap sulit dilakukan,  diatur jenjang hirarki para pesertanya. Pertama, kemah pramuka santri yang pesertanya terbatas hanya para pramuka penggalang saja (semacam jambore). Kedua, kemah pramuka santri yang pesertanya mencakup pramuka penegak dan pramuka pendega (semacam raimuna), atau kalau bersifat pengabdian sosial disebut Perkemahan Wirakarya (PW)

 

14. Hanya saja, terlepas dari pelbagai masalah yang ditemukan pada penyelenggaran perkemahan pramuka santri nusantara, seyogiyanya perhatian tidak tertuju hanya pada pelaksanaan perkemahan pramuka santri saja. Untuk hasil yang optimal, yakni  dalam rangka pembentukan watak dan kepribadian kaum muda, adalah lebih penting jika gugusdepan yang menampung para santri sebagai peserta didik, yakni gugus depan yang ada di pesantren-pesantren dapat lebih diaktifkan. Diharapkan, gugusdepan yang ada di pesantren tersebut dapat aktif melaksanakan pelbagai  kegiatan kepramukaan secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.

 

15. Karena pesantren pada umumnya berada ditengah  masyarakat, adalah harapan bersama pula gugusdepan yang ada di pesantren tersebut tidak hanya berupa gugus depan berbasis sekolah (school based), tetapi sekali gus juga gugusdepan berbasis wilayah  (teritorial based).  Aktifnya gugus depan berbasis wilayah dipandang penting dalam rangka menyalurkan minat dan bakat,  serta  melakukan pembinaan watak dan kepribadian kaum muda, terutama yang putus sekolah, yang untuk Indonesia banyak ditemukan didaerah pedesaan. Adalah ideal jika disetiap desa (pedesaan) atau rukun warga (perkotaan) dapat didirikan satu gugusdepan teritorial tersebut.

 

-00-

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar